Sunday, December 17, 2023

Tidak Pantas Disini namun Tak Apa

Perihal waktu yang tidak bisa diberi jeda barang sedetik

Kepergian adalah yang pasti

Berhenti bertanya, menerawang dan menerka

Langkah kaki mana yang bisa kau kendalikan?

Bukan dengan memaksa menggenggam tangan hingga terluka

Jalan ini masih sangat panjang

Tidak untuk dipaksa

Maka pergilah wahai sang pelipur lara

Duka yang pergi sebenarnya tidak untuk ditangisi

Ia adalah haru dan tawa yang baru terasa setelah pedih yang kau simpan begitu lama

Bukankah semua ragu yang membuatmu terlambat beristirahat setiap malam itu

Sudah terjawab hari ini?

Lalu mengapa?

Semua hanya gema

Sudah kubilang, berhentilah bertanya

Anggap saja ini dogma yang harus diterima begitu saja

Atas doa-doa mu untuk kembali pada kebiakan

Monday, December 13, 2021

Tenggelam

Bagaimana jika kesepian akan menjadi teman sejatimu

Apakah kamu benar benar siap

Tidak ada sedarahmu yang peduli

Entah kamu sedang menangis atau tertawa gila sendirian


Mengapa begitu berani berharap


Pada pasak yang tak terikat bahkan dengan selembar urat yang melilit tubuhmu


Lalu kamu terbuai


Menggantungkan jiwamu yang terkatung katung 


Di dunia yang enggan kamu tinggalkan


Namun dengan tertatih kamu bertahan


Keluar sayang


Duniamu begitu sempit dan kamu begitu terhimpit


Jika tak ada cahaya yang menerangi jalanmu


Merangkak dan ikuti hatimu


Hatimu yang tanpa siapapun didalamnya kecuali jika Tuhan


Ikuti hatimu


Hanya kata hatimu

Saturday, November 9, 2019

Tanpa Namaku

Tak sering iri pada kaktus
Ia mampu tumbuh di tanah tandus
Tetap hidup di padang gersang
Tak seperti aku

Ia tajam dan diawasi
Ia rumit takan terlilit
Ia kokoh berakar menjalar 
Tak seperti aku

Mengapa ingin aku memimpikan duri 
Sedang kelembutan menciptakan kenyamanan
Mengapa ingin aku memimpikan tanah yang tandus
Sedangkan bumi ku tinggali sejuk dan menyegarkan

Mungkin karena aku tak mampu bertahan lama
Apa yang ku perjuangkan dapat begitu saja sirna 
Luluh lantak seketika hanya dengan sapaan angin kering 
Tak seberapa dan tak begitu berharga

Walaupun pada akhirnya akan sama saja
Semua takan bermakna apa-apa
Lalu mengapa menakuti hal yang pasti terjadi
Hanya karena belum siap dipatahkan keadaan












Saturday, July 20, 2019

Kesendirian dan Aku adalah Kita

Di Bumi tanah pada musim kemarau
Gersang dan kekeringan
Di Bumi gadis bersenda garau
Sedang kegirangan
.
.
Tak ada hujan
Suhu menurun tajam
Berdoa pada Tuhan
Tak salah tempat bersemayam
.
.
Tiba waktunya merasa dicintai
Lain hari takut dikhianati
.
.
.
Keyakinan itu penuh terasa kala pertama sapa
Ragu itu menguat tanpa sebab setiap hari setelahnya
.
.
Sialan!
Semua yang ku coba sia-sia
.
.
Kesendirianku teman paling setia
Ia tak pernah membuat kecewa
Tak banyak bualan kata-kata
Kesendirian dan aku adalah kita.








Tuesday, June 11, 2019

Jabat jagat dalam ingat

Setiap kata yang kau kecap dengan cakap tak semuanya ku ingat
Hanya memerhatikan apa yang dapat ku tangkap darimu saat duduk berhadapan membuat telingaku agak tuli dan otakku agak tumpul

Melihat bagaimana matamu melekuk, lidahmu meliuk-liuk dan mengucapkan rangkaian kata dengan begitu lantang
Menggambarkan segalanya dengan tanganmu tak berhenti bergerak berusaha memberikan penjelasan
Diantara jeda pikirku bertanya apakah semua itu secara tiba-tiba terbesit dan kau ungkapkan begitu saja
Atau kau sudah berlatih didepan cermin untuk memastikan narasimu tersampaikan dengan sempurna
Karena dengan semua cerita tentang Raja, semesta dan seisinya itu telah membuatku  terpesona

Tak jarang aku bertanya tanda ketidaktahuan
Tak jarang aku menyanggah tanda ketidaksetujuan
Tak jarang aku mengangguk tanda kesepakatan
Tak jarang kita tertawa atas obrolan tak terbayang namun tetap sarat makna kebenaran
Atas semua gagasan yang kau ucapkan dan segala tanggapan yang aku berikan
Hanya satu yang kumaksudkan agar kau tetap berbicara padaku, karena aku senang kau anggap ada


Monday, June 10, 2019

Antara sadar

Pernah sekali dalam hidupku terjadi
Mengenal seorang lelaki bertubuh kekar berparas manis menarik hati
Tetap ia menebar pesona dan tak sadar ada aku yang terkesima
Mengelak memiliki hati yang telah ku beri tanpa permisi

Jika hari berganti tanpa ia kutemui rindu itu semakin pekat
Aku hanya ingin dekat sangat dekat begitu dekat hingga tak ada sekat
Ada alasan untuk bisa mengungkap rasa yang ingin kuungkap namun selalu membuat mulutku tercekat
Bahkan untuk membuatnya membalas rinduku, aku memang tidak berbakat

Seakan waktu takan berhenti, musim takan berganti dan terus berlalu dengan semua cerita yang ia isi setiap hari
Bersamanya memang sulit mengerti siapa sebenarnya aku ini
Menerima hal yang sederhana darinya terasa sangat istimewa
Bahkan hanya sehelai kertas mampu membuatku bermimpi tak berbatas






Wednesday, January 3, 2018

Berlalulah, berbahagilah


Seperti kilat cahaya yang menyilaukan
Diiringi suara yang menggelegar
Berlangsung begitu   cepat dalam waktu yang singkat
Atau angin yang bertiup begitu kencang
Bergerak memutar melingkar dan memusar
Menerbangkan langit rumah dengan hembusan ganasnya
Tuan, mengapa semua berubah begitu cepat?
Bahkan terjadi pada kita yang memiliki kesadaran
Kita manusia berakal dan kita berfikir
Kita melakukan penilaian terhadap segala sesuatu
Sama halnya dengan akibat yang diawali oleh sebab
Semua tindakan diawali oleh alasan
Entah sebab yang menjadi dasar perbuatan
Atau akibat yang menjadikan tindakan ini beralasan
Tapi tuan, ada hal yang tidak bisa dipaksakan
Karna itu, maaf atas setiap perbuatan yang menyakitkan
Maaf atas keinginan yang tak tertandaskan
Maaf atas setiap kebaikan yang tak terbalaskan
Bukankah kita sudah sepakat bahwa Tuhan tidak tidur?
Bukankah kau yang bilang do'a bisa merubah segalanya?
Bukankah kau yang bilang do'a bisa membantu dalam segala kesulitan?
Do'a ku malam ini teruntuk padamu tuan

Ini sulit bagiku, mungkin mudah bagimu
Semoga kau lekas bahagia, sehingga aku bisa merasakan hal yang sama
Selamat malam, selamat mimpi indah

Monday, January 1, 2018

Dulu senang, indah dikenang

Tahun baru membawa harapan semu
Tak ada yang istimewa yang membuat terkesima
Semua tak pernah menjadi menyenangkan
Ada alasan yang tak pernah terselesaikan

Masih jelas dalam ingatan ini
Ketika sekitar lima tahun usiaku
Aku belajar mengayuh sepeda
Jatuh bangun dan tak pernah menyerah

Aku bukan anak yang meminta ini itu
Aku memang tumbuh menjadi anak yang tak menuntut  banyak permintaan
Ayahku paling mengerti aku
Ia sadar anaknya tidak manja meski aku adalah anak bungsunya

Sampai pada suatu senja
Ketika anak-anak bermain sepeda dan termasuk aku
Semua orang berteriak memanggil namaku
Kulihat ayah mendorong sepeda biru untuk dihadiahkan kepadaku tanpa ada janji sebelumnya

Semua orang melihat ke arahku
Aku menangis gembira dan tak menyangka
Hadiah terindah yang pernah ku terima dengan caranya yang sangat romantis dan mengesankan
Bahkan ketika aku beranjak dewasa ayah tak pernah berhenti memberiku kejutan lainnya

Rasanya aku ingin tetap hidup dalam kenangan
Ketika tak ada keputusan atas perpisahan
Tak ada pertemuan yang berpangkal dan berujung pada pertengkaran
Ayah tak melakukan kesalahan yang begitu fatal, pun begitu ibuku
Semua ini hanya karena takdir-Nya saja
Ayah dan Ibu kini berjauhan
Aku disini menyimpan kesedihan dan menangis sendirian




Tuesday, October 31, 2017

Laronku dan Aku

Penghujung senja diawal musim hujan
Laron berterbangan mencari kehangatan
Berharap temui pasangan untuk membangun kerajaan
Bergegas dengan sayap rangup menjauhi tempo kematian

Penghujung senja diawal musim hujan
Aku duduk mematung di bawah lampu redup di sudut lantai ruangan
Riuh angin dingin menyusup membawa asa sirna yang coba dibiasakan
Berusaha sekuat sebisa tapi ingatan membungkam utuh kenangan
Aku terkulai tegar menahan

Malam pertama diawal musim hujan
Sepasang laron menemui takdir panjang kehidupan
Meniti jalan mencari tempat bertahan
Beranak pinak untuk menyambung sejarahnya dikemudian
Berbahagia dengan cita dan cinta yang diidamkan

Malam pertama diawal musim hujan
Jiwa menekan lupakan kenangan
Sadari semua perubahan dan semua kenyataan
Waktu tersisa arti harapan
Indah dalam sesak rasa diawal perjalanan
Menuju akhir musim dingin yang penuh pengharapan
Semoga yang hilang segera kembali atau cepat tergantikan

Tak ada yang terlupakan dalam kenangan
Semua utuh tertanam dalam lubuk ingatan
Walau inginku selalu ada dalam baiknya keadaan
Kita memulai hal baru dalam kehidupan 
Rasaku tenggelam dalam penyeselan yang ku anggap kebaikan

Tidak Pantas Disini namun Tak Apa

Perihal waktu yang tidak bisa diberi jeda barang sedetik Kepergian adalah yang pasti Berhenti bertanya, menerawang dan menerka Langkah kaki ...